Langsung ke konten utama

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN DAN BAGI HASIL TERHADAP MINAT MASYARAKAT MENJADI NASABAH BANK SYARI’AH

Muhammad Abrar Kasmin Hutagalung
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Potensi Utama
Jl. K.L Yos Sudarso Km. 6.5 No. 3-A Tanjung Mulia Medan Telp : (061) 6640525

ABSTRAK

Perkembangan yang pesat dalam dunia perbankan saat ini ditandai dengan banyaknya bank-bank  syari’ah yang bermunculan.Perbankan syari’ah diciptakan untuk memberikan produk-produk unggul sesuai dengan syariat Islam. Namun meskipun produk-produk tersebut unggul secara syari’ah, masih banyak orang yang meragukan keprofesionalan pelayanannya. Unggul di dalam produk masih belum mencukupi untuk mempertahankan pelanggan.Persepsi tentang sistem bagi hasil adalah persepsi masyarakat bahwa sistem bagi hasil ini lebih sesuai dengan prinsip-prinsip syari’ah, lebih menguntungkan dan telah memenuhi rasa keadilan bagi semua pihak.Pendekatan  dalam penelitian ini  adalah  pendekatan kuantitatif.Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat di sekitar wilayah kerja  Bank Syariah Mandiri KCP Medan Simpang Limun  sebanyak 242 kepala keluarga dan sampel diperoleh 97 responden. Teknik analisa data yang digunakan adalah regresi berganda. Hasil penelitian diperoleh : 1) ada pengaruh kualitas pelayanan terhadap minat menjadi nasabah bank syari’ah (0,000); 2) Ada pengaruh bagi hasil terhadap minat menjadi nasabah bank syari’ah (p=0,016); 3) Ada pengaruh kualitas pelayanan dan bagi hasil terhadap minat menjadi nasabah bank syari’ah (p=0,000).
Kata Kunci : Kualitas Pelayanan, Bagi Hasil, Minat Masyarakat, Nasabah Bank Syariah

ABSTRACT

The rapid developments in the world of banking is currently characterized by a large number of Sharia banks are popping up. Sharia banking was created to provide superior products in accordance with the Islamic Shari'a.Yet despite these products Excel in Shariah, there are still many people who doubt the keprofesionalan of his ministry. Excels in the product is still not sufficient to retain customers.Perception of the system for the results is the public perception that the system for these results more in line with the principles of Shari'ah, more profitable and have met the sense of fairness for all parties.The approach in this study was the quantitative approach. The population in this research is the community around the working area of Bank Syariah Mandiri KCP Medan Simpang Limun as much as 242 family heads and samples acquired 97 respondents.Data analysis technique used is multiple regression. The research results obtained: 1) There is the influence of service quality to be the interest rate shariah bank customers (p = 0000)(0.000);2) there is an influence for the results against the interest became bank's Shariah (p = 0,016); 3) affect the quality of service and for the results against the interest became bank's Shariah (p = 0.000).Perception can affect a person's interest.
Keywords: Quality of Service, Profit Sharing, Public Interest, Customers of Sharia Banks


1.      PENDAHULUAN

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar ke-2, sudah selayaknya Indonesia menjadi  pelopor dan kiblat pengembangan keuangan syari’ah di dunia. Hal ini bukan merupakan impian yang  mustahil karena potensi Indonesia untuk menjadi global player keuangan syari’ah sangat besar[1].Perbankan  adalah  suatu lembaga  yang melaksanakan tiga fungsi utama yaitu, menerima simpanan uang, meminjamkan uang dan memberikan jasa pengiriman uang [2].
Menurut Halim Alamsyah, Deputi Gubernur Bank Indonesia, yang disampaikan dalam ceramah ilmiah Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Milad ke-8 IAEI, 13 April 2012 mengemukakan bahwa dalam penilaian Global Islamic Financial Report (GIFR) tahun 2011, Indonesia menduduki urutan keempat negara yang memiliki potensi dan kondusif dalam pengembangan industri keuangan syari’ah setelah Iran, Malaysia dan Saudi Arabia. Berdasarkan beberapa aspek dalam penghitungan indeks seperti jumlah bank syari’ah, jumlah lembaga keuangan non-bank syari’ah maupun ukuran aset keuangan syari’ah yang memiliki bobot terbesar, maka Indonesia diproyeksikan akan menduduki peringkat pertama dalam beberapa tahun ke depan. Peningkatan peranan industri keuangan syari’ah Indonesia menuju global player juga terlihat dengan meningkatnya ranking total aset keuangan syari’ah dari urutan ke-17 pada tahun 2009 menjadi urutan ke-13 pada tahun 2010 dengan nilai aset sebesar US$7,2 miliar. Dengan melihat perkembangan pesat keuangan syari’ah terutama perbankan syari’ah dan penerbitan sukuk, total aset keuangan syari’ah Indonesia pada tahun 2011 diyakini telah melebihi US$20 miliar sehingga rankingnya akan meningkat signifikan[3].
Perkembangan yang pesat dalam dunia perbankan saat ini ditandai dengan banyaknya bank-bank  syari’ah yang bermunculan. Banyaknya bank syari’ah yang ada, menuntut bank konvensional untuk lebih  peka terhadap kebutuhan maupun perilaku nasabah sehingga nasabah tidak akan berpindah ke bank syari’ah maupun bank lain. Perilaku nasabah terhadap bank dapat dipengaruhi oleh sikap dan persepsinasabahterhadap karakteristik perbankan itu sendiri. Dalam menginterpretasikan suatu informasi antar  nasabah tidaklah sama meskipun informasi yang diterima berasal dari sumber yang sama [4].
Bank  Syari’ah  merupakan  sebuah  perusahaan  jasa  keuangan  yang  sedang berkembang  yang  masih memerlukan perbaikan guna meningkatkan kualitas pelayanan bagi nasabahnya. Kualitas  pelayanan  merupakan  salah  satu  faktor kunci keberhasilan bank syari’ah sebagai perusahaan jasa. Rahman (2004) mengemukakan bahwa sesuai dengan prinsipnya, perbankan syari’ah diciptakan untuk memberikan produk-produk unggul sesuai dengan syariat Islam. Namun meskipun produk-produk tersebut unggul secara syari’ah, masih banyak orang yang meragukan keprofesionalan pelayanannya. Unggul di dalam produk masih belum mencukupi untuk mempertahankan pelanggan. Di dalam masyarakat yang semakin kritis seperti sekarang selain produk, pelayanan yang diberikan juga mempengaruhi keberlangsungan perusahaan. Oleh Astuti, dkk menyatakan bahwa terkait dengan kualitas pelayanan di bank syari’ah, banyak kritik dari masyarakat terutama mengenai penerapan sistem bagi hasil yang diterapkannya. Beberapa diantara mereka masih meragukan kesesuaian bank syari’ah dengan syariat Islam. Selain itu, beberapa keluhan pelayanan di bagian front office yang terkesan kurang profesional juga banyak dilontarkan masyarakat. Hal semacam ini tentu harus segera diselesaikan untuk menjaga loyalitas nasabah yang mengutamakan prinsip syari’ah sebagai motivator untuk menggunakan bank syari’ah. Upaya yang memungkinkan untuk dilakukan adalah dengan memperbaiki dan meningkatkan pelayanan bank syari’ah yang didalamnya juga melibatkan kesesuaian produk dengan prinsip syari’ah yang menjadi pembeda bank syari’ah dengan bank konvensional [5].
Perkembangan perbankan syari’ah di Indonesia belum menunjukkan pertumbuhan yang cukup menggembirakan. Hal ini disebabkan, antara lain oleh adanya persepsi dan pemahaman masyarakat yang belum tepat terhadap bank syari’ah, terutama yang disebabkan dominasi bank konvensional[6].
Kualitas pelayanan jasa adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Dengan kata lain ada dua faktor utama yang mempengaruhi kualitas pelayanan  jasa  yaitu  dirasakan expected service dan perceived service. Apabila jasa yang diterima atau dirasakan (perceived service) sesuai dengan yang diharapkan, maka kualitas pelayanan jasa dipresepsikan baik dan memuaskan. Jika jasa yang diterima melampaui harapan pelanggan, maka kualitas pelayanan jasa dipresepsikan sebagai  kualitas yang ideal. Sebaliknya, jika jasa diterima lebih rendah dari pada yang diharapkan maka kualitas pelayanan jasa dipresepsikan buruk.
Dengan demikian baik tidaknya kualitas pelayanan jasa tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan pelanggannya secara konsisten [7]. Namun pada kenyataannya oleh Astuti, dkk menyatakan bahwa terkait dengan kualitas pelayanan di bank syari’ah, banyak kritik dari masyarakat terutama mengenai penerapan sistem bagi hasil yang diterapkannya. Beberapa diantara mereka masih meragukan kesesuaian bank syari’ah dengan syariat Islam[8].
Istilah bagi hasil dalam kamus Inggris dikenal dengan profit sharing, yaitu pembagian laba. Secara definitif dalam kamus ekonomi, profit sharing diartikan sebagai distribusi beberapa bagian dari laba kepada para pegawai dari suatu perusahaan. Hal ini dapat berbentuk suatu bonus uang tunai tahunan yang didasarkan pada laba yang diperoleh pada tahun-tahun sebelumnya atau dapat berbentuk pembayaran mingguan atau bulanan[9].
Menurut Sjahdeini, bagi hasil didefinisikan sebagai pembagian keuntungan yang diperoleh atas usaha antara pihak bank dan nasabah atas kesepakatan bersama dalam melakukan suatu kerjasama”[10]. Dalam penerapan sistem bagi hasil di bank syari’ah ini menggunakan nisbah bagi hasil. Nisbah bagi hasil merupakan faktor yang cukup penting dalam menentukan bagi hasil di bank syari’ah. Sebab, aspek nisbah bagi hasil merupakan aspek yang disepakati bersama antara kedua belah pihak yang melakukan transaksi. Untuk menentukan nisbah bagi hasil itu perlu diperhatikan aspek-aspek seperti: data usaha, kemampuan angsuran, hasil usaha yang dijalankan, nisbah pembiayaan dan distribusi pembagian hasil[11]. Masing-masing pihak yang melakukan kerjasama dalam sistem bagi hasil akan berpartisipasi dalam kerugian dan keuntungan. Hal yang demikian ini menunjukkan keadilan dalam distribusi pendapatan[12].
Tara, dkk mengemukakan bahwa tidak seperti sistem perbankan konvensional, perbankan syari’ah melarang riba, koleksi dan pembayaran riba. Perbankan syari’ah mempromosikan berbagi keuntungan dan kerugian, memberikan zakat, bekerja untuk manfaat masyarakat dan pengembangan seluruh aspek bisnis halal. Pada hari-hari awal, kecenderungan pelanggan ke arah penerimaan bank syari’ah adalah rendah tetapi dengan berlalunya waktu itu akan meningkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kriteria adopsi dirasakan penting mengenai perbankan syari’ah. Kriteria ini meliputi faktor-faktor penting, mulai dari yang paling penting, kesadaran mengenai keuangan, ajaran Islam, reputasi, jaringan dan agama. Dengan demikian, hasilnya akan berharga untuk sektor perbankan syari’ah dalam memahami persepsi pelanggan dan preferensi mengenai perbankan syari’ah, merangsang strategis dan instansi terkait dalam mempromosikan kebijakan yang melengkapi pasar dan peraturan-peraturan khusus perbankan syari’ah[13].
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas, penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai bagaimana persepsi masyarakat terhadap bank syari’ah dan sejauhmana masyarakat berminat menjadi nasabah sehingga peneliti mengangkat penelitian dengan judul “PENGARUH KUALITAS PELAYANAN DAN BAGI HASIL TERHADAP MINAT MASYARAKAT MENJADI NASABAH BANK SYARI’AH”.
Setelah diketahui permasalahan sebagaimana yang telah dikemukakan di atas dapat diidentifikasi suatu permasalahan yang menjadi dasar penelitian ini yaitu :
1.        Masyarakat mempersepsikan bahwa bank syari’ah adalah bank Islam tanpa mengetahui secara mendalam apa kelebihan dari bank syari’ah.
2.        Kinerja bank syari’ah berpusat pada pelayanan yang diberikan di tempat bank syari’ah melakukan kegiatan ekonominya sehingga banyak persepsi-persepsi yang timbul di masyarakat terhadap bank syari’ah tentang kualitas pelayanan dan bagi hasil.
Sesuai dengan identifikasi masalah yang ditemukan peneliti, dalam hal ini peneliti melakukan penelitian pada persepsi masyarakat pada pelayanan bank dan persepsi masyarakat pada hasil bagi.
Dari identifikasi masalah yang telah dikemukakan, dapat dirumuskan suatu masalah dalam penelitian ini yaitu apakah persepsi tentang bank syari’ah berpengaruh terhadap minat menjadi nasabah.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam membangun minat masyarakat menggunakan produk-produk bank syari’ah dengan memfokuskan pada persepsi tentang bank syari’ah dan memberikan informasi serta masukan kepada para praktisi perbankan syari’ah mengenai persepsi masyarakat terhadap bank syari’ah dalam menentukan kebijakannya.

2.      METODE PENELITIAN

2.1              Pendekatan Penelitian

Pendekatan  dalam penelitian ini  adalah  pendekatan kuantitatif,  karena penelitian  ini disajikandengan angka-angka. Menurut Arikunto[14] bahwa penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang banyak dituntut menguakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut serta penampilan hasilnya.

2.2              Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan pada wilayah kerja Bank Syariah Mandiri KCP Medan Simpang Limun dan waktu penelitian dilaksanakan pada Januari 2017.

2.3              Populasi dan Sampel

1.        Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari atas: objek/subjek yangmempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untukdipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya[15]. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat di sekitarwilayah kerja  Bank Syariah Mandiri KCP Medan Simpang Limun sebanyak 242 kepala keluarga.
2.        Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.Jika jumlah subjek besar, dapat diambil antara 10-15%  atau 15-25%atau lebih[16]. Berdasarkan pendapat tersebut peneliti mengambil jumlah sampel sebesar 40% dari jumlah populasi sehingga diperoleh sampel sebanyak 97 responden.

2.3              Teknik Analisis Data

Analisis data adalah metode yang digunakan untuk mengolah data sehingga hasil akhir dari pengolahan tersebut merupakan kesimpulan dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.Data yang diperoleh dari melalui kuisioner akan dianalisis dengan menggunakan analisis persentase dan uji statistik. Analisis statistik merupakan alat yang dapat di percaya serta dapat memberikan dasar yang kuat dalam mengambil suatu kesimpulan. Untuk menganalisis suatu data dilakukan berbagai tahapan-tahapan pengujian, yaitu :
1.    Uji Validitas
Yaitu uji  untuk  mengukur  apakah kuesioner  yang digunakan dapat mengukur variabel  yang  akan  diukur oleh uji Reliabilitas, yaitu untuk melihat apakah alat yang digunakan menunjukkan  konsistensi di dalam mengukur  gejala yang sama.
2.    Uji Reliabilitas
Yaituuntuk  mengetahui  konsistensi  atau  keteraturan  hasil  pengukuran suatu instrumen apabila instrumen tersebut digunakan lagi sebagai alat ukur objek atau responden.
3.    Analisa Deskriptif
Yaitu  mengumpulkan  dan  menganalisa  serta  menafsirkan  data,  sehingga data  tersebut  dapat  memberikan  gambaran  mengenai  keadaaan  yang  diteliti. Teknik  analisis  yang  digunakan  untuk  menggambarkan  secara  detail  mengenai suatu variabel.
4.    Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik, yaitu dalam penggunaan regresi, terdapat dua asumsi dasar yang terpenting   sebagai  syarat penggunaan metode regresi. Denganterpenuhinya asumsi tersebut, maka hasil  yang  diperoleh dapat lebih akurat dan mendekati atau sama dengan  kenyataan. Uji asumsi tersebut adalah:


a)         Uji Normalitas
Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui apakah model regresi, uji data  dalam  variabel  regresi  yang  digunakan  bertujuan  untuk  mengetahui bahwa distribusi  data  dalam  variabel  yang  akan  digunakan  telah  terdistribusi  normal. Data  yang baik dan layak digunakan dalam penelitian adalah data  yang memiliki distribusi normal. Dikatakan normal jika nilai probability-value> 0,05.
b)        Uji Multikoleniaritas
Uji  multikoleniaritas  dilakukan  dengan  tujuan  untuk  mengetahui  apakah pada model regresiditemukan korelasi antara variabel independen. Model regresi yang baik adalah  jika tidak ditemukannya  korelasi  antara  variabel  independen dengan  asumsiUji  BGjika ObsR-Square>  0,05maka  data  tersebut  berarti  tidak terjadi multikolinieritas.
c)         Uji Heteroskedastisitas
Heterokedastisitas adalah varian residual yang  tidak konstan pada  regresi sehingga akurasi hasil prediksi menjadi meragukan. Model yang digunkan adalah dengan menggunakanuji White. Model regresi linier berganda dikatakan tidak terdapat  heterokedastisitas  jika  tidak ada  satupun variebel bebas yang signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat. Nilai  dari probabilitas R-Square pada signifikansinya yang berada diatas tingkat kepercayaan 5%  atau nilai probability-value> 0,05.
5.    Uji Hipotesis
Pengujian ini dimaksudkan untuk memutuskan apakah menerima atau menolak hipotesis   berdasarkan data yang diperoleh dari sampel. Dalam pengolahan data, penelitian ini  menggunakan  metode  analisis  regresi berganda dengan menggunakan uji t dan uji F dimana dasar pengambilan keputusan adalah apabila signifikan lebih kecil dari 0,05 maka Ha diterima,  sebaliknya jika signifikan lebih besar dari 0,05 maka Ha ditolak.
6.    Analisa Regresi
Model persamaan regresi diperoleh : Y = a + bX1 + bX2 + e
7.    Koefisien Determinasi (R2)
Ujideterminasi (R2)digunakan untuk mengukur sejauh mana kemampuan model dalam  menerangkan variasi dependen. Nilai koefisien determinasi adalah  diantara nol dan  satu. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen[17].

2.5  Definisi Operasional

Definisi operasional merupakanpetunjuk bagaimana variabel penelitian diukur[18]. Variabel-variabel yang dijabarkan dalam definisi operasional pada penelitian ini  adalah sebagai berikut :
1.        Persepsi kualitas pelayanan bank adalah penafsiran  dan  tanggapan  tentang tingkat keunggulan yang diharapkan masyarakat.
2.        Persepsi hasil bagi adalahpenafsiran dan tanggapan tentanghasil yang diperoleh yang memenuhi rasa keadilan antara pihak bank dengan nasabah.
3.        Minat menjadi nasabah adalah keinginan masyarakat menjadi nasabah bank syari’ah karena memiliki pelayanan dan produk hasil bagi sesuai dengan ajaran Islam.

3.      HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1    Hasil Penelitian

1.        Hasil Uji Validitas
a)        Variabel Kualitas Pelayanan
Hasil uji validitas pada variabel kualitas pelayanan diperoleh bahwa dari 10 item kesemuanya dinyatakan valid.
b)        Variabel Bagi Hasil
Hasil uji validitas pada variabel bagi hasil diperoleh bahwa dari 8 item kesemuanya dinyatakan valid.
c)        Variabel Minat Menjadi Nasabah
Hasil uji validitas pada variabel minat menjadi nasabah diperoleh bahwa dari 12 item diperoleh 2 item yang tidak valid sehingga 10 item dinyatakan valid.
2.        Hasil Uji Reliabilitas
Hasil uji reliabilitas diperoleh  nilai Cronbach's Alphapada variabel kualtias pelayanan = 0,959, variabel bagi hasil = 0,872 dan variabel minat menjadi nasabah = 0,878 sehingga ketiga variabel dinyatakan reliabel.
3.        Hasil Analisa Deskriptif
Dalam mengukur kecenderungan masing-masing variabel digunakan perhitungan Mean  (M) dan Standar Deviasi (SD) yang diperoleh dari pengolahan data melalui One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test . Berdasarkan hasil uji statistik pada analisa deskriptif data adalah sebagai berikut :
a)        Variabel Kualitas Pelayanan
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai Mean = 28,81; SD = 6,751

Tabel 1. Kategori Persepsi Kualitas Pelayanan
Rentang Nilai
Kategori
Frekuensi
%
X >36
Baik
16
16,49
22< X < 36
Sama
61
62,89
X <22
Kurang
20
20,62
Jumlah
97
100
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa persepsi nasabah tentang kualitas pelayanan ternyata cukup bervariasi.Secara umum dapat dilihat bahwa sebagian besar (62,89%) masyarakat mempersepsikan kualitas pelayanan sama. Alasan yang dikemukakan masyarakat antara lain adalah kemampuan, kesopanan dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki oleh para staff, bebas dari bahaya, risiko dan keragu-raguanserta perjanjian berdasarkan hukum Islam serta tekad untuk memberikan pelayanan sesuai dengan harapan pelanggan sama saja dengan bank konvensional.
b)        Variabel Bagi Hasil
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai Mean = 22,94; SD = 5,093




Tabel 2. Kategori Persepsi Bagi Hasil
Rentang Nilai
Kategori
Frekuensi
%
X > 28
Baik
16
16,49
18 < X < 28
Sama
63
64,95
X < 18
Kurang
18
18,56
Jumlah
97
100
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa persepsi nasabah tentang bagi hasil ternyata cukup bervariasi.Secara umum dapat dilihat bahwa sebagian besar (64,95%) masyarakat mempersepsikan bagi hasil sama dengan bank konvensional.
c)        Variabel Minat Menjadi Nasabah
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai Mean = 26,36; SD = 5,821

Tabel 3. Kategori Minat Menjadi Nasabah
Rentang Nilai
Kategori
Frekuensi
%
X >32
Tinggi
13
13,40
21 < X <32
Cukup
66
68,04
X <21
Rendah
18
18,56
Jumlah
97
100

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa minat masyarakat menjadi nasabah bank syari’ah cukup bervariasi.Secara umum dapat dilihat bahwa sebagian besar (68,04%) minat masyarakat menjadi nasabah bank syari’ah pada kategori cukup.Alasan yang dikemukakan masyarakat antara lain adalah kinerja bank syari’ah sama saja dengan bank konvensional dan kurang setuju bahwa bank syari’ah mampu memenuhi kebutuhan nasabah.
4.        Hasil Uji Asumsi Klasik
a)        Uji Normalitas
Dari hasil pengolahan data diperoleh bahwa masing-masing nilai asymp.sig (2-tailed) pada variabel kualitas pelayanan = 0,286; variabel bagi hasil = 0,267 dan variabel minat menjadi nasabah = 0,185 sehingga dapat dikatakan bahwa semua variabel berdistribusi normal.
b)        Uji Multikoleniaritas
Dari hasil pengolahan data diperoleh bahwa nilai VIF = 1,056 < 10 sehingga tidak ditemukannya korelasi antar variabel independen.
c)        Uji Heteroskedastisitas
Dari hasil pengolahan data diperoleh bahwa variabel kualitas pelayanan dengan nilai probabilitas signifikansi = 0,115, variabel bagi hasil dengan nilai probabilitas signifikansi =0,795 dimana kedua nilai probabilitas signifikansi> 0,05 sehingga dapat dikatakan tidak terjadi heteroskedastisitas.


5.        Hasil Uji Hipotesis
a)        Hasil Uji t
Uji t bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh satu variabel independen terhadap variabel dependen (secara parsial) denganmenganggap variabel independen yang lain konstan. Pengujian ini dilakukandengan membandingkan nilai signifikansi t yang ditunjukkan oleh Sig dari t. Jika nilaiSig dari t < 0,05 maka variabel independen berpengaruh secara parsial terhadap variabeldependen.
Berdasarkan hasil uji statistik pada tabel 7 diketahui bahwa variabel kualitas pelayanan (X1)dengan nilai t hitung = 5,866 (sig = 0,000) dan variabel bagi hasil (X2) dengan nilai t hitung = 2,454 (sig = 0,016) yang berarti masing-masing variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat.
Tabel 4. Hasil Analisa Uji t
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t
Sig.
B
Std. Error
Beta
1
(Constant)
8.351
2.760

3.026
.003
Kualitas Pelayanan (X1)
.434
.074
.503
5.866
.000
Bagi Hasil (X2)
.240
.098
.210
2.454
.016
a. Dependent Variable: Minat Menjadi Nasabah

b)        Hasil Uji F
Uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Derajat kepercayaan yang digunakan adalah 0,05. Apabila nilai F hitung> nilai F tabel maka hipotesis alternatif yang menyatakan bahwa semua variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai Fhitung = 24,849 > 3,09 (sig = 0,000) yang berarti ada pengaruh variabel bebas (X1 dan X2) secara simultan terhadap variabel dependen (Y).
Tabel 5 Hasil Analisa Uji F
ANOVAb
Model
Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
1
Regression
1124.826
2
562.413
24.849
.000a
Residual
2127.545
94
22.633


Total
3252.371
96



a. Predictors: (Constant), Bagi Hasil, Kualitas Pelayanan
b. Dependent Variable: Minat Menjadi Nasabah



6.         Hasil Analisa Regresi
Dari hasil uji statistik diperoleh persamaan regresi berganda : Y = 8,351 + 0,434X1 + 0,240X2 yang berarti semakin baikpersepsi tentang kualitas pelayanan dan bagi hasil, maka semakin tinggi minat menjadi nasabah.
7.         Koefisien Determinasi (R2)
Dari hasil uji statistik diperoleh bahwa nilai R Square = 0,346 yang berarti persepsi tentangkualitas pelayanan dan bagi hasil dapat menjelaskan minat menjadi nasabah sebesar 34,6% dan sisanya dijelaskan oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam model regresi dalam penelitian ini.
3.2    Pembahasan
1.        Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Minat Masyarakat Menjadi Nasabah
Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,000 yang menunjukkan bahwa ada pengaruh persepsi tentang kualitas pelayanan terhadap minat menjadi nasabah. Setiap orang pasti menginginkan pelayanan yang terbaik dari jasa yang ditawarkanatau dipakai sesuai dengan harapan dari masing-masing pemakai jasa (konsumen). Persepsi timbul akibat penilaian masyarakat dari hasil jasa yang diterima atau penilaian umum dari masyarakat yaitu persepsi baik, biasa-biasa saja ataupun kurang. Persepsi tentang kualitas pelayanan pada bank syari’ah merupakan bentuk pemahaman atau penafsiran dan tanggapan terhadap pelayanan yang diberikan bank syari’ah kepada masyarakat. Munculnya lembaga keuangan seperti bank syari’ah disebabkan agar masyarakat dapat melakukan kegiatan ekonominya sesuai dengan ajaran Islam. Dengan kata lain bank dibentuk dengan ciri-ciri khusus dari bank konvensional yang menjadi daya tarik sehingga masyarakat berminat menjadi nasabah.Tjiptono(2000) mengungkapkan bahwa kualitas pelayanan dapat diukur baik atau tidaknya berdasarkan sudut pandang nasabah bukan berdasarkan penyedia jasa.Persepsi terhadap kualitas pelayanan didefinisikan sebagai penilaian menyeluruh atas keunggulan suatu jasa.
2.        Pengaruh Bagi Hasil Terhadap Minat MasyarakatMenjadi Nasabah
Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,016 yang menunjukkan bahwa ada pengaruh persepsi tentang bagi hasil terhadap minat menjadi nasabah. Alasan nasabah berminat menyimpan uangnya ke bankdiantaranya adalah ingin mendapatkan bunga dari hasil tabungannya atau atau meminjam uang ke bank dengan harapan pinjaman tersebut tidak melilit utang nasabah kepada bank. Istilah bunga pada bank syari’ah tidak digunakan akan tetapi memakai prinsip bagi hasil yang menggunakan prosentase nisbah bagi hasil.
Dilihat dari data yang diperoleh diketahui bahwa berbagai persepsi yang diberikan masyarakat tentang bagi hasil dan mayoritas dengan kecenderungan masih pada kategori sedang untuk menjadi nasabah bank syari’ah. Berbagai alasan diberikan yang diantaranya adalah selain kurang memahami arti dari bagi hasil, akan tetapi juga kurang percaya bahwa bank syari’ah dapat menerapkan bagi hasil pada nasabah bank syari’ah. Ini menandakan bahwa belum maksimalnya pemasaran bank syari’ah kepada masyarakat agar berminat menjadi nasabah bank, baik dalam bentuk simpanan ataupun pinjaman sehingga menimbulkan berbagai persepsi yang kurang pada prinsip-prinsip dari bank syari’ah itu sendiri. Makan dari kategori “sedang” adalah masyarakat masih ragu-ragu menjadi nasabah bank syari’ah. Hal ini sesuai dengan pendapat Astuti, dkk (2009) yang menyatakan bahwa terkait dengan kualitas pelayanan di bank syari’ah, banyak kritik dari masyarakat terutama mengenai penerapan sistem bagi hasil yang diterapkannya. Beberapa diantara mereka masih meragukan kesesuaian bank syari’ah dengan syariat Islam sehingga dengan demikian diperlukan upaya lagi untuk memasarkan produk-produk bank syari’ah agar dikenal masyarakat yang pada akhirnya minat masyarakat semakin tinggi menjadi nasabah. Hal ini dapat dilihat dari hasil persamaan regresi yang menunjukkan bahwa semakin tinggi persepsi tentang bagi hasil, maka semakin tinggi minat masyarakat menjadi nasabah.

3.        Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Bagi Hasil Terhadap Minat MasyarakatMenjadi Nasabah
Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,000 yang menunjukkan bahwa ada pengaruh persepsi tentang kualitas pelayanan dan bagi hasil terhadap minat menjadi nasabah. Kualitas pelayanan merupakan pondasi bagi suatu perusahaan atau lembaga jasa keuangan. Bila pelayanan kurang dari yang diharapkan oleh konsumen / nasabah, tentu menimbulkan suatu persepsi yang negatif pada produk yang ditawarkan atau yang dihasilkan karena kualitas pelayanan mencakup semua bagian-bagian yang ada di dalam suatu lembaga keuangan seperti bank syari’ah seperti di dalam memberikan produk bagi hasil yang menjadi salah satu ciri khas dari bank syari’ah.Produk bagi hasilmenjadi salah satu strategi untuk menarik minat nasabah dalam  menginvestasikan dananya di bank syariah. Bank syariah yang mampu menawarkan nisbahlebih tinggi tentu akan lebih diminati oleh masyarakat (nasabah). Nasabah akan lebih tertarik  untuk menginvestasikan dananya  di bank dengan bagi hasil tinggi. Namun sebaliknya bila bagi hasil yang diperoleh nasabah sama dengan bank konvensional maka dapat mempengaruhi minat masyarakat menjadi nasabah.Nasabah tentu akan lebih berminatpada bank yang peka terhadap kebutuhan nasabahnya.  Kepekaan bank terhadap nasabah dimulai dengan menunjukkan kualitas pelayanan yang baik dengan menawarkan produk-produk unggulannya. Semakin baik kualitas pelayanan yang diberikan bank syari’ah dapat meningkatkan minat masyarakat menjadi nasabah bank syari’ah.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Haron, dkk (1994) tentang persepsi konsumen di Malaysia menemukan bahwa persepsi konsumen  terhadap bank syari’ah terdiri dari beberapa dimensi yaitudimensi pemanfaatan fasilitas perbankan, pengetahuan terhadap perbankan Islam, peranan konsumen dalam memilih produk perbankan. Dalam hal ini, pemanfaatan fasilitas diartikan sebagai bagian dari kualitas pelayanan serta pengetahuan merupakan bagian dari persepsi.

4.      KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian melalui analisis data dapat disimpulkan bahwa kualitas pelayanan dapat mempengaruhi minat seseorang. Kualitas pelayanan mencerminkan suatu kinerja dari jasa yang diberikan dan produk yang ditawarkan mencerminkan hasil kinerja yang diberikan kepada nasabah. Semakin baik kualitas pelayanan  bank syari’ah dan produk yang diberikan bisa dipahami masyarakat dapat menimbulkan persepsi yang baik yang pada akhirnya dapat menimbulkan minat pada diri seseorang menjadi nasabah bank syari’ah. Dari hasil temuan dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi minat masyarakat terhadap minat menjadi nasabah adalah kualitas pelayanan dan produk yang ditawarikan yaitu bagi hasil.

5.      SARAN

Setiap konsumen tentu mengingingkan pelayanan yang terbaik sesuai dengan harapannya. Pelayanan yang diberikan kepada nasabah menggambarkan kualitas bank. Upaya yang dapat dilakukan dengan memperbaiki dan meningkatkan pelayanan bank syari’ahsesuai dengan ciri khasnya sehingga diperlukan suatu strategi khusus yang membedakan pelayanan bank syari’ah dengan bank konvensional. Kualitas pelayanan yang diberikan serta produk-produk yang ditawarkan harus sejalan dengan apa yang diharapkan masyarakat (konsumen). Bila hal ini tidak sesuai, maka dapat mempengaruhi minat seseorang rendah pada produk yang ditawarkan.Kurangnya persepsi masyarakat pada bank syari’ahmembuat permasalahan yang  sangat besar sehingga dapat  memfokuskan sosialisasi yang baik  tentang produk-produk yang diberikan sesuai dengan prinsip-prinsip syari’ah kepada masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Antonio, Syafi’i, Bank Syari’ah: Dari Teori ke Praktik (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hlm. 224-225
Arikunto, Suharsimi, (2006), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,Jakarta : PT. Rineka Cipta
Azwar, Industri Perbankan Syariah Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, (2015) : Peluang dan Tantangan Kontemporer, BDK Makassar, Diakses pada 15 Januari 2017 dari : http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/150-artikel-keuangan-umum/20434-industri-perbankan-syariah-menghadapi-masyarakat-ekonomi-asean-mea-2015-peluang-dan-tantangan-kontemporer
Haron,Sudin; Ahmed, Norafifah & Planisek, Sandra L., (1997) “Bank patronage factors of Muslim and non Muslim customers”,International Journal of Bank Marketing, Marketing ISSN: 0265-2323. Vol. 12, No.1,(1994), pp 32-40, Diakses pada 14 -01-2017 dari : http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi= 10.1.1.533.8736& rep= rep1&type=pdf
Karim, Adiwarman A., (2006)Bank  Islam, Analisis Fiqih dan Keuangan,(Jakarta : Raja Grafindo Persada
Kotler, Philip& Amstrong, Garry, (2008),Prinsip -prinsip Pemasaran,Jakarta : Erlangga.
Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia (2007), Jakarta : Tim  Pustaka  Phoenix, 
Muhamad, (2004), Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syari’ah, Yogyakarta: UII Press.
Rahmawaty, Anita, (2014), Pengaruh Persepsi Tentang Bank Syariah Terhadap Minat Menggunakan Produk Di BNI Syariah Semarang, (Jurnal ADDIN, Vol. 8, No. 1, Februari 2014) h. 3. Diakses 14 Januari 2017 dari http://www.journal.stainkudus.ac.id/index.php/Addin/article/download/587/600
Septin Puji Astuti, Wiwik Wilasari & Datien Eriska Utami, (2009), Meningkatkan Kualitas Pelayanan Di Bank Syariah, Jurnal Manajemen Bisnis Vol. 2 No.1 April –Juli 2009 (47-58).
Sjahdeini, Sutan Remy, (1999), Perbankan Islam, Jakarta : Pustaka Utama Grafiti.
Sugiyono, (2012), Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung : Alfabeta
Tjiptono, Fandy, (2011),Pemasaran Jasa, Malang : Bayumedia
Tara,Nain; Irshad, Madiha;Khan, Muhammad Rizwan;Yamin, (2014),MahwishFactors Influencing Adoption of Islamic Banking: A Study from Pakistan, Journal of Public Administration and Governance, ISSN 2161-7104, 2014, Vol. 4, No. 3 Diakses pada 12 Januari 2017 dari: http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.971.2867&rep=rep1&type=pdf
Singarimbun,Masri (1995), Metode Penelititan Survei, Jakarta : LP3S.



[1]Azwar, Industri Perbankan Syariah Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 : Peluang dan Tantangan Kontemporer, (BDK Makassar, 2015), Diakses pada 15 Januari 2017 dari : http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/150-artikel-keuangan-umum/20434-industri-perbankan-syariah-menghadapi-masyarakat-ekonomi-asean-mea-2015-peluang-dan-tantangan-kontemporer
[2] Adiwarman A.Karim, Bank  Islam, Analisis Fiqih dan Keuangan,(Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2006)h. 18
[3]Anita Rahmawaty, Pengaruh Persepsi Tentang Bank Syariah Terhadap Minat Menggunakan Produk Di BNI Syariah Semarang, (Jurnal ADDIN, Vol. 8, No. 1, Februari 2014) h. 3. Diakses 14 Januari 2017 dari http://www.journal.stainkudus.ac.id/index.php/Addin/article/download/587/600
[4] PhilipKotler & GarryAmstrong, Prinsip -prinsip Pemasaran, (Jakarta : Erlangga, 2008) h.174
[5] Septin Puji Astuti, ..Meningkatkan Kualitas... hlm. 48
[6] Syafi’i Antonio, Bank Syari’ah: Dari Teori ke Praktik (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hlm. 224-225
[7] Fandy Tjiptono, Pemasaran Jasa, (Malang: Bayumedia, 2011) hlm. 59
[8] Septin Puji Astuti, Wiwik Wilasari & Datien Eriska Utami, Meningkatkan Kualitas Pelayanan Di Bank Syariah (Jurnal Manajemen Bisnis Vol. 2 No.1 April –Juli 2009 (47-58) hlm. 48
[9] Muhamad, Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin pada Bank Syari’ah, (Yogyakarta: UII Press, 2004), h. 18
[10] Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Islam, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1999) hlm. 60
[11] Muhamad, Teknik Perhitungan... h. 86
[12] Muhamad, Teknik Perhitungan... h. 25-26
[13] Nain Tara, Madiha Irshad, Muhammad Rizwan Khan, MahwishYamin,  Factors Influencing Adoption of Islamic Banking: A Study from Pakistan, Journal of Public Administration and Governance, ISSN 2161-7104, 2014, Vol. 4, No. 3 Diakses pada 12 Januari 2017 dari : http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.971.2867&rep=rep1&type=pdf
[14]Suharsimi Arikunto,Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2006) hlm. 12
[15] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D,(Bandung: Alfabeta, 2012) hlm. 80
[16]Suharsimi Arikunto,Prosedur... hlm. 242
[17]Sugiyono, Metode Penelitian...hlm. 121
[18]Masri Singarimbun,Metode Penelititan Survei,(Jakarta : LP3S, 1995) hlm. 15

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perencanaan dan Pengembangan Karir BAB I PENDAHULUAN A . Latar Belakang Salah satu dorongan orang bekerja pada suatu organisasi, termasuk perusahaan adalah karena di sana ada kesempatan untuk maju. Sudah menjadi sifat dasar dari manusia pada umumnya untuk menjadi lebih baik, lebih maju dari posisi yang dipunyai saat ini, karena itulah mereka menginginkan suatu kemajuan dalam hidupnya. Kesempatan untuk maju yang termasuk ke dalam program pengembangan dapat di wujudkan jika mereka diberikan kesempatan untuk mengikuti program pelatihan dan pendidikan. Program pelatihan dan pendidikan yang mana yang diikuti perlu direncanakan dengan baik, agar pada gilirannya mereka mempunyai kesempatan untuk dipromosikan dipindahkan dari suatu jabatan ke jabatan lain yang mempunyai status dan tanggung jawab yang lebih tinggi. B . Rumusan Masalah 1.       Pengertian Perencanna Karir? 2.       Apa itu Perencanaan Karir? 3. ...